Telah mengabarkan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] dia berkata; telah memberitakan kepada kami [Al Walid] dari [Al Auza'i] dari [Yahya] dari [Abu Salamah] dari [Abu Hurairah] dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Janganlah kalian mendahului dengan berpuasa sebelum bulan (Ramadlan), kecuali orang yang biasa berpuasa dan hari itu bertepatan dengan waktu puasanya."
Telah mengabarkan kepadaku ['Imran bin Yazid bin Khalid] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Syu'aib] dia berkata; telah memberitakan kepada kami [Al Auza'i] dari [Yahya] dia berkata; telah menceritakan kepadaku [Abu Salamah] dia berkata; telah mengabarkan kepadaku [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah sekali-kali seseorang mendahului bulan (Ramadlan) dengan (berpuasa) sehari dan tidak pula dua hari, kecuali seseorang yang biasa berpuasa sebelumnya, maka berpuasalah."
Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Al 'Ala] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Abu Khalid] dari [Muhammad bin 'Amru] dari [Abu Salamah] dari [Ibnu 'Abbas] dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian mendahului bulan Ramadlan dengan puasa sehari atau dua hari kecuali jika ia telah biasa berpuasa (sunnah) pada hari itu." Abdurrahman berkata ini adalah salah.
Telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib bin Yusuf] dan [Muhammad bin Basysyar] -dan lafadz ini miliknya- mereka berkata; telah menceritakan kepada kami ['Abdurrahman] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Manshur] dari [Salim] dari [Abu Salamah] dari [Ummu Salamah] dia berkata; "Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa dua bulan berturut-turut, hanya saja beliau menyambung bulan Sya'ban dengan Ramadlan."
Telah mengabarkan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] dia berkata; telah memberitakan kepada kami [An Nadlr] dia berkata; telah memberitakan kepada kami [Syu'bah] dari [Taubah Al 'Anbari] dari [Muhammad bin Ibrahim] dari [Abu Salamah] dari [Ummu Salamah] dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyambung bulan Sya'ban dengan Ramadlan."
Telah mengabarkan kepada kami [Ar Rabi' bin Sulaiman] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Ibnu Wahb] dia berkata; telah mengabarkan kepadaku [Usamah bin Zaid] bahwasanya [Muhammad bin Ibrahim] menceritakan kepadanya dari [Abu Salamah bin 'Abdurrahman] bahwasanya ia bertanya kepada ['Aisyah] tentang puasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam? Maka ia menjawab; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa hingga kami mengatakan; 'Beliau tidak pernah berbuka' dan beliau berbuka hingga kami mengatakan; 'Beliau tidak pernah berpuasa', beliau berpuasa pada satu bulan penuh di bulan Sya'ban atau kebanyakan pada bulan Sya'ban."
Telah mengabarkan kepada kami [Ahmad bin Sa'd bin Al Hakam] dia berkata; [pamanku] telah menceritakan kepada kami, dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Nafi' bin Yazid], [Ibnul Had] menceritakan kepadanya, bahwasanya [Muhammad bin Ibrahim] menceritakan kepadanya dari [Abu Salamah bin 'Abdurrahman] dari ['Aisyah] dia berkata; "Sungguh salah seorang dari kami pernah berbuka pada bulan Ramadlan, kemudian tidak sanggup untuk mengqadhanya hingga masuk bulan Sya'ban. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah berpuasa satu bulan penuh seperti pada bulan Sya'ban; beliau berpuasa semuanya (satu bulan penuh) kecuali hanya sedikit (beberapa hari); bahkan beliau pernah berpuasa semuanya (satu bulan penuh)."
Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin 'Abdullah bin Yazid] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari ['Abdullah bin Abu Labid] dari [Abu Salamah] dia berkata; Aku bertanya kepada ['Aisyah], lalu aku katakana; "Beritahukan kepadaku tentang puasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?" ia menjawab; "Beliau berpuasa hingga kami katakan, 'Sungguh beliau -seakan-akan selalu- berpuasa dan beliau berbuka hingga kami katakan, 'Sungguh beliau -seakan-akan selalu- berbuka'. Dan beliau tidak pernah berpuasa selama satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya'ban; (pada satu tahun) beliau berpuasa penuh di bulan Sya'ban kecuali hanya sedikit (beberapa hari); -namun pada tahun yang lainnya- beliau berpuasa di bulan Sya'ban semuanya (sebulan penuh)."
Telah mengabarkan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] dia berkata; telah memberitakan kepada kami [Mu'adz bin Hisyam] dia berkata; [bapakku] telah menceritakan kepadaku dari [Yahya bin Abu Katsir] dia berkata; telah menceritakan kepadaku [Abu Salamah bin 'Abdurrahman] dari ['Aisyah] dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah berpuasa satu bulan dalam satu tahun yang lebih banyak dari puasa beliau di bulan Sya'ban. Beliau berpuasa di bulan Sya'ban semuanya (sebulan penuh)."
Telah mengabarkan kepada kami [Ahmad bin Sulaiman] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Abu Dawud] dari [Sufyan] dari [Manshur] dari [Khalid bin Sa'd] dari ['Aisyah] dia berkata; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa di bulan Sya'ban."
Telah mengabarkan kepada kami [Harun bin Ishaq] dari ['Abdah] dari [Sa'id] dari [Qatadah] dari [Zurarah bin Aufa] dari [Sa'd bin Hisyam] dari ['Aisyah] dia berkata; "Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membaca Al Qur'an semuanya (seluruh Al Qur'an) dalam satu malam, tidak pernah shalat malam hingga pagi dan tidak pula berpuasa satu bulan penuh sama sekali selain pada bulan Ramadlan."
Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Ahmad bin Abu Yusuf Ash Shaidalani Al Harrani] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Salamah] dari [Hisyam] dari [Ibnu Sirin] dari ['Abdullah bin Syaqiq] dari ['Aisyah] dia berkata; Aku pernah bertanya kepadanya tentang puasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam? ia menjawab; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa hingga kami katakan, 'Sungguh beliau -seakan-akan selalu- berpuasa' dan beliau berbuka hingga kami katakana; 'Sungguh beliau -seakan-akan selalu- berbuka'. Dan beliau tidak pernah berpuasa selama satu bulan penuh sejak beliau datang ke Madinah kecuali di bulan Ramadlan."
Telah mengabarkan kepada kami [Isma'il bin Mas'ud] dia berkata; telah memberitakan kepada kami [Khalid bin Al Harits] dari [Kahmas] dari ['Abdullah bin Syaqiq] dia berkata; Aku pernah bertanya kepada [Aisyah]; "Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat Dluha?" Ia menjawab; "Tidak, kecuali jika beliau datang dari bepergian." Aku bertanya; "Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa satu bulan penuh?" Ia menjawab; "Tidak, aku tidak pernah mengetahui beliau berpuasa satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadlan dan tidak pernah berbuka hingga berpuasa dari bulan itu sampai beliau melakukan pepergian."
Telah mengabarkan kepada kami [Abul Asy'ats] dari [Yazid bin Zurai'] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Al Jurairi] dari ['Abdullah bin Syaqiq] dia berkata; Aku berkata kepada ['Aisyah] dia berkata; Aku pernah bertanya kepada Aisyah; "Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat Dluha?" Ia menjawab; "Tidak, kecuali jika ia datang dari bepergian." Aku bertanya; "Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memiliki puasa tertentu selain Ramadlan?" Ia menjawab; "Demi Allah, beliau tidak pernah mengetahui beliau berpuasa tertentu selama satu bulan selain Ramadlan, hingga berlalu dan tidak berbuka hingga beliau berpuasa dari bulan itu'."
Telah mengabarkan kepadaku ['Amr bin 'Utsman] dari [Baqiyyah] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Bahir] dari [Khalid] dari [Jubair bin Nufair] bahwasanya seorang lelaki bertanya kepada ['Aisyah] ia menjawab; "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa di bulan Sya'ban semuanya (satu bulan penuh) dan memilih berpuasa pada hari senin dan kamis."
Telah mengabarkan kepada kami ['Amr bin 'Ali] dia berkata; telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Dawud] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Tsaur] dari [Khalid bin Ma'dan] dari [Rabi'ah Al Juraisyi] dari ['Aisyah] dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa di bulan Sya'ban dan Ramadlan serta memilih berpuasa pada hari senin dan kamis."
Telah mengabarkan kepada kami ['Abdullah bin Sa'id Al Asyja'i] dari [Abu Khalid] dari ['Amru bin Qais] dari [Abu Ishaq] dari [Shilah] dia berkata; kami berada di rumah Ammar, kemudian diberi kambing panggang, ia lalu berkata, "Makanlah", namun ada sebagian orang yang menjauh. Ia berkata, "Aku sedang berpuasa." Maka [Ammar] berkata; "Barangsiapa yang berpuasa di hari yang diragukan, maka sungguh ia telah mendurhakai Abul Qasim shallallahu 'alaihi wasallam."
Telah mengabarkan kepada kami [Qutaibah] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Ibnu 'Adi] dari [Abu Yunus] dari [Simak] dia berkata; aku masuk menemui ['Ikrimah] di hari yang dipermasalahkan, 'Apakah hari itu ia berada di bulan Ramadlan atau masih berada di bulan Sya'ban?! ' Sementara saat ia sedang makan roti, sayur dan susu, lalu ia berkata kepadaku; "Kemarilah." Aku berkata; "Aku sedang berpuasa." Ia berkata dengan bersumpah atas nama Allah; sungguh kamu benar-benar akan berbuka." Aku berkata; "Subhanallah" -dua kali-, setelah aku melihatnya bersumpah dengan tidak ada pengecualian (tidak ada redaksi Insya Allah), maka aku maju seraya kukatakan; "Sekarang berikan -hujjah- yang ada padamu!" ia berkata; "Aku mendengar [Ibnu Abbas] berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya. Jika ada mendung atau gelap yang menghalangi antara kalian dan hilal, maka sempurnakanlah bilangan -bulan-, yaitu bilangan bulan Sya'ban. Dan janganlah kalian menghadap bulan (Ramadlan) serta menyambung bulan Ramadlan dengan satu hari dari bulan Sya'ban."
Telah mengabarkan kepada kami ['Abdul Malik bin Syu'aib bin Al Laits bin Sa'd] dia berkata; [bapakku] telah mengabarkan kepadaku dari [kakekku], dia berkata; telah mengabarkan kepadaku [Syu'aib bin Ishaq] dari [Al Auza'i] dan [Ibnu Abu 'Arubah] dari [Yahya bin Abu Katsir] dari [Abu Salamah] dari [Abu Hurairah] dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: "Ketahuilah, janganlah kalian mendahului bulah (Ramadlan) dengan berpuasa sehari atau dua hari, kecuali seseorang yang biasa berpuasa, maka hendaknya ia berpuasa."
Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin 'Abdullah bin 'Abdul Hakim] dari [Syu'aib] dari [Al Laits] dia berkata; telah memberitakan kepada kami [Khalid] dari [Ibnu Abu Hilal] dari [Ibnu Syihab] dari [Sa'id bin Al Musayyab] dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Barangsiapa yang melakukan qiyamullail dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu."
Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Jabalah] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Al Mu'afa] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Musa] dari [Ishaq bin Rasyid] dari [Az Zuhri] dia berkata; telah mengabarkan kepadaku ['Urwah bin Az Zubair] dari ['Aisyah] istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menganjurkan manusia untuk melakukan qiyamullail di bulan Ramadlan tanpa menyuruh mereka dengan perintah yang mengharuskan dalam hal itu, lalu bersabda: "Barangsiapa yang melakukan qiyamullail dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu."
Telah mengabarkan kepada kami [Zakaria bin Yahya] dia berkata; telah memberitakan kepada kami [Ishaq] dia berkata; telah memberitakan kepada kami ['Abdullah bin Al Harits] dari [Yunus Al Aili] dari [Az Zuhri] dia berkata; telah mengabarkan kepadaku ['Urwah bin Az Zubair] bahwasanya ['Aisyah] mengabarkan kepadanya; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar di tengah malam untuk melakukan shalat di masjid, lalu beliau shalat bersama orang banyak… dan ia menyebutkan hadits tersebut. Di dalamnya -terdapat redaksi-: Aisyah berkata; "Beliau menganjurkan mereka untuk melakukan qiyamullail di bulan Ramadlan tanpa menyuruh mereka dengan perintah yang mengharuskan dan bersabda: "Barangsiapa yang melakukan qiyamullail pada malam lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu." Ia berkata; "Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat dan perintah tetap sepeti itu."
Telah mengabarkan kepadaku [Muhammad bin Khalid] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Bisyr bin Syu'aib] dari [bapaknya] dari [Az Zuhri] dia berkata; telah mengabarkan kepadaku ['Urwah bin Az Zubair] bahwasanya ['Aisyah] mengabarkan kepadanya; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar di tengah malam lalu beliau melakukan shalat di masjid… dan ia menyebutkan hadits. Di dalam hadits tersebut, ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menganjurkan mereka untuk melakukan qiyamullail di bulan Ramadlan tanpa menyuruh mereka dengan perintah yang mengharuskan lalu bersabda: "Barangsiapa yang melakukan qiyamullail pada malam lailatul Qadar di bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu."
Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Khalid] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Bisyr bin Syu'aib] dari [bapaknya] dari [Az Zuhri] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Abu Salamah bin 'Abdurrahman] bahwasanya [Abu Hurairah] berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang Ramadlan: "Barangsiapa yang melakukan qiyamullail di bulan itu dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu."
Telah mengabarkan kepada kami [Nuh bin Habib] dia berkata; telah menceritakan kepada kami ['Abdurrazzaq] dia berkata; telah memberitakan kepada kami [Ma'mar] dari [Az Zuhri] dari [Abu Salamah] dari [Abu Hurairah] dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menganjurkan untuk melakukan qiyamullail di bulan Ramadlan tanpa menyuruh mereka dengan perintah yang mengharuskan, beliau bersabda: "Barangsiapa yang melakukan qiyamullail di bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu.
Telah mengabarkan kepada kami [Qutaibah] dari [Malik] dari [Ibnu Syihab] dari [Humaid bin 'Abdurrahman] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang melakukan qiyamullail di bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu."
Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Salamah] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Ibnul Qasim] dari [Malik] dia berkata; telah menceritakan kepadaku [Ibnu Syihab] dari [Humaid bin 'Abdurrahman] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang melakukan qiyamullail di bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu."
Telah mengabarkan kepada kami [Qutaibah] dan [Muhammad bin 'Abdullah bin Yazid] mereka berkata; telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Az Zuhri] dari [Abu Salamah] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa Ramadlan -dalam suatu lafazh yang "Barangsiapa yang melakukan qiyamullail di bulan Ramadlan"- dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu. Dan, barangsiapa yang melakukan qiyamullail pada malam lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu."
Telah mengabarkan kepada kami [Qutaibah] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Az Zuhri] dari [Abu Salamah] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa Ramadlan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu."
Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin 'Abdul A'la] dan [Muhammad bin Hisyam] dan [Abul Asy'ats] dan lafazh ini miliknya, mereka berkata; telah menceritakan kepada kami [Khalid] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Hisyam] dari [Yahya bin Abu Katsir] dari [Abu Salamah bin 'Abdurrahman] dia berkata; telah menceritakan kepadaku [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa Ramadlan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah lalu. Dan, barangsiapa yang melakukan qiyamullail pada malam lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu."
Telah mengabarkan kepadaku [Mahmud bin Khalid] dari [Marwan]; telah memberitakan kepada kami [Mu'awiyah bin Sallam] dari [Yahya bin Abu Katsir] dari [Abu Salamah] dari [Abu Hurairah] dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari bersabda: "Barangsiapa yang melakukan qiyamullail di bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, akan diampuni dari dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang melakukan qiyamullail pada malam lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dari dosanya yang telah berlalu."
Telah mengabarkan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Al Fadhl bin Dukain] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Nashr bin 'Ali] dia berkata; telah menceritakan kepadaku [An Nadlr bin Syaiban] bahwasanya ia bertemu dengan [Abu Salamah bin 'Abdurrahman], lalu ia berkata; ceritakan kepadaku tentang hal yang paling utama yang pernah engkau dengar di bulan Ramadlan? Maka Abu Salamah berkata; telah menceritakan kepadaku ['Abdurrahman bin 'Auf] dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau menyebutkan tentang bulan Ramadlan dan beliau mengutamakannya dari bulan yang lain, beliau bersabda: "Barangsiapa yang shalat dimalam hari bulan Ramadlan dengan keimanan dan mengharapkan pahala maka dosa-dosanya akan keluar seperti hari dimana ia baru dilahirkan oleh ibunya, " Abu Abdurrahman berkata; 'Ini adalah salah, yang benar adalah Abu Salamah dari Abu Hurairah Telah mengabarkan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] dia berkata; Telah memberitakan kepada kami [Annadlr bin Syumail] dia berkata; Telah memberitakan kepada kami [Qasim bin Fadhl] dia berkata; Telah menceritakan kepada kami [Annadlr bin Syaiban] dari [Abu Salamah] lalu ia menyebutkan seperti itu juga dan dia berkata; 'Barangsiapa yang berpuasa dan shalat dimalamnya dengan keimanan dan mengharapkan pahala.'
Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin 'Abdullah bin Al Mubarak] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Abu Hisyam] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Al Qasim bin Al Fadl] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [An Nadlr bin Syaiban] dia berkata; aku berkata kepada [Abu Salamah bin 'Abdurrahman]; "Ceritakan kepadaku mengenai sesuatu tentang bulan Ramadlan yang kamu dengar dari Bapakmu, dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam, yang mana antara Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam dan Bapakmu tidak ada perantara seorangpun. Abu Salamah menjawab; 'Ya, ' Telah menceritakan kepadaku [Bapakku] dia berkata; Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah Tabaaraka Wata'ala telah mewajibkan kepada kalian puasa di bulan Ramadlan, dan aku mensunnahkan shalat malamnya. Barang siapa berpuasa dibulan tersebut dan shalat di malamnya karena iman dan mengaharap pahala dariNya, maka dosa-dosanya akan keluar darinya sebagaimana hari dimana ia dilahirkan oleh ibunya."
Telah mengabarkan kepadaku [Hilal bin Al 'Ala] dia berkata; [bapakku] telah menceritakan kepada kami, dia berkata; telah menceritakan kepada kami ['Ubaidullah] dari [Zaid] dari [Abu Ishaq] dari ['Abdullah bin Al Harits] dari ['Ali bin Abu Thalib] dari Rasulullah beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: "Puasa itu adalah untukku dan Aku yang akan memberinya pahala, dan bagi seorang yang berpuasa ia memiliki dua kebahagiaan yaitu ketika ia berbuka dan ketika ia bertemu dengan Rabbnya, demi yang jiwaku berada ditanganNya sungguh bau mulut seorang yang berpuasa itu lebih harum disisi Allah daripada aroma minyak kesturi."
Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Basysyar] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Muhammad] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Abu Ishaq] dari [Abul Ahwash] dia berkata; ['Abdullah] berkata; Allah -Azza wa Jalla- berfirman: "Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan, kegembiraan ketika bertemu Rabb-nya dan ketika berbuka. Dan aroma mulut orang yang berpuasa sungguh lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kesturi."
Telah mengabarkan kepada kami ['Ali bin Harb] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudhail] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Abu Sinan Dhirar bin Murrah] dari [Abu Shalih] dari [Abu Sa'id] dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah -Tabaraka wa Ta'ala- berfirman: 'Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. Dan orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan; ketika berbuka ia gembira dan ketika bertemu Rabb-nya, lalu Dia membalasnya, ia pun bergembira. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa sungguh lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kesturi."
Telah mengabarkan kepada kami [Sulaiman bin Dawud] dari [Ibnu Wahb] dia berkata; telah mengabarkan kepadaku ['Amr] bahwasanya [Al Mudzir bin 'Ubaid] menceritakan kepadanya dari [Abu Shalih As Samman] dari [Abu Hurairah] dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Orang yang berpuasa bergembira dua kali; ketika berbuka dan pada saat bertemu Allah. Dan aroma mulut orang yang berpuasa sungguh lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kesturi."
Telah mengabarkan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] dia berkata; telah memberitakan kepada kami [Jarir] dari [Al A'masy] dari [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah] dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Tidak ada kebaikan yang dikerjakan anak Adam kecuali akan ditulis untuknya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat. Allah -Azza wa Jalla- berfirman: 'Kecuali puasa, maka sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, ia meninggalkan syahwat dan makanannya hanya karena Aku. Puasa itu perisai. Orang yang berpuasa mempunyai dua kegembiraan; satu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu Rabb-nya. Dan aroma mulut orang yang berpuasa sungguh lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kesturi."
Telah mengabarkan kepadaku [Ibrahim bin Al Hasan] dari [Hajjaj] dia berkata; [Ibnu Juraij] berkata; telah mengabarkan kepadaku ['Atha] dari [Abu Shalih Az Ziyyat] bahwasanya ia mendengar [Abu Hurairah] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semua amal perbuatan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, ia untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. Dan puasa itu adalah perisai. Jika salah seorang dari kalian berada pada hari puasa, maka tidak boleh melakukan rafats (berbicara keji yang termasuk di dalamnya adalah jima) dan tidak boleh membuat kegaduhan. Jika seseorang mencacinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan; 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa.' Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh aroma mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah -pada hari Kiamat- dari pada aroma minyak kesturi. Orang yang berpuasa mempunyai dua kegembiraan, ia bergembira dengan keduanya; jika berbuka, ia bergenbira dengan berbukanya dan jika bertemu dengan Rabb-nya -Azza wa Jalla-, ia bergembira dengan puasanya."
Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Hatim] dia berkata; telah memberitakan kepada kami [Suwaid] dia berkata; telah memberitakan kepada kami ['Abdullah] dari [Ibnu Juraij] -secara baca- dari ['Atha bin Abu Rabbah] dia berkata; telah mengabarkan kepadaku ['Atha Az Ziyyat] bahwasanya ia mendengar [Abu Hurairah] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah Azza wa Jalla berfirman: "Semua amal perbuatan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa, ia untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. Puasa itu adalah perisai. Jika salah seorang dari kalian berada pada hari puasa, maka tidak boleh melakukan rafats (berkata kotor dll) dan tidak boleh membuat kegaduhan. Jika seseorang mencacinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan; 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa.' Dan, demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, aroma mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah -pada hari Kiamat- dari pada aroma minyak kesturi." Hadits ini telah diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Sa'id Musayyab.